Potret Pendidikan Kita Kalimat ini bukan sekadar metafora. Ia adalah potret buram dari sistem pendidikan yang terjebak dalam formalitas dan ritual administratif. Di atas kertas, kita punya kurikulum nasional, angka kelulusan yang tinggi, bahkan laporan tahunan yang tampak menjanjikan. Namun, di dalam kelas—tempat sejatinya proses pendidikan berlangsung—kita menemukan kegersangan: minimnya dialog, terpasungnya kreativitas, dan murid-murid yang belajar hanya untuk ujian, bukan untuk kehidupan. Yang lebih menyedihkan, guru sebagai aktor utama pendidikan justru terjebak dalam labirin kewajiban administratif. Mereka dibebani segunung laporan, absensi digital, penilaian daring, dokumen portofolio, hingga isian berlapis-lapis hanya demi satu hal: pencairan hak dan tunjangan mereka sendiri. Sertifikasi, TPG, dan insentif lainnya datang dengan syarat yang terkadang lebih rumit dari logika akal sehat. Maka lahirlah generasi guru yang menulis lebih banyak laporan daripada catatan pembelajaran untuk murid-muridnya. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya lebih memilih mengejar jam mengajar semata untuk memenuhi beban minimal 24 jam tatap muka, dibanding mendalami substansi pengajaran. Jam diisi bukan karena ingin berbagi ilmu, tapi karena itu prasyarat bertahan hidup. Pendidikan pun kehilangan ruhnya; menjadi sekadar ladang kerja yang melelahkan. Dan betapa pedihnya ketika para guru harus menjadi objek urunan, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, demi melicinkan urusan administrasi pencairan tunjangan. Kesejahteraan yang dijanjikan seringkali menjadi alat tawar-menawar kekuasaan birokrasi. Mereka yang seharusnya dimuliakan, malah harus "membeli" haknya sendiri dengan berbagai cara. Inilah ironi yang tidak ditulis dalam laporan resmi: bahwa pendidikan bukan saja mati di kelas, tapi juga dikerangkeng oleh sistem yang memaksa para pendidik menjadi budak aturan, bukan pembebas pikiran. Pendidikan kita perlu dibebaskan dari belenggu angka dan administrasi yang membunuh akal sehat. Harus ada keberanian untuk memanusiakan guru, mempercayai mereka sebagai pendidik, bukan petugas laporan. Karena pendidikan sejatinya bukan proyek negara. Ia adalah nadi masa depan. By. Noldi N. Tane
Pendidikan kita hidup di angka-angka kertas, tapi mati di dalam kelas.
WhatsApp
facebook
POLITIK 09 Desember 2025
GoKLIK GORONTALO. Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, resmi membuka rangkaian pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD II Golkar Kabupaten Gorontalo, Selasa...
Selengkapnya...Copyright © GoKLIK.CO.ID
All Rights Reserved.
By 
Copyright © GoKLIK.CO.ID | All Rights Reserved.
By 