Oleh : Mohamad Akbar Rezaldath Iyou (Penunggang aksi, Kata senior) Ini bukan lagi sekadar tulisan, ini adalah bor yang menusuk jantung kemunafikan! Di Bone Bolango, genderang politik telah ditabuh dengan irama yang ekstrem, keras, dan penuh distorsi, menciptakan narasi busuk yang mengotori langit demokrasi. Kita sedang menyaksikan sebuah Blunder Bernarasi kelas kakap—sebuah sandiwara kekuasaan yang tak hanya memalukan, tapi juga propokatif terhadap akal sehat setiap warga negara! Babak I: Skema Fitnah dan Penjajahan Moralitas Organisasi Fitnah adalah senjata para pengecut. Ketika mahasiswa, dengan darah muda dan idealisme yang menyala, turun ke jalan menyuarakan rakyat—bukan kepentingan kelompok—maka jawaban dari kursi kekuasaan sungguh menjijikkan: "Demo Ditunggangi!" Ini adalah upaya pembunuhan karakter massal! Tuduhan ini adalah racun yang disuntikkan untuk menciptakan Gerakan Pecah Belah, membuat publik meragukan kemurnian perlawanan. Seolah-olah, di Bone Bolango, kebenaran hanya boleh diucapkan jika ia berseragam kekuasaan! Dan puncaknya adalah pelecehan terhadap marwah intelektual: Sekretariat HMI ditarik kuncinya paska demo! Sebuah tindakan primitif yang berbau aroma represi! Apa pesan yang ingin disampaikan? Bahwa setelah menyuarakan kritik, sarang aktivisme harus "disegel" layaknya tempat maksiat? Ini bukan sekadar penarikan kunci; ini adalah penyegelan paksa terhadap daya kritis, upaya brutal untuk merampas ruang bernapas bagi kaum muda yang berani melawan arus! Ini adalah tamparan keras ke wajah kebebasan berorganisasi! Babak II: Pagar Baja untuk Kritik, Karpet Merah untuk Kekuasaan—Ironi yang Mengoyak Bone Bolango Inilah blunder paling telanjang yang memicu amarah! Skenario ini begitu kontras hingga memuntahkan ironi: PAGAR BAJA disiapkan untuk menghadang "orang luar" yang berpotensi menjadi kritikus, sementara KARPET MERAH dibentangkan luas untuk "orang luar" yang diyakini membawa kekuasaan! Beredar luas bukti digital—foto chat dari tim inti di grup WhatsApp—yang secara eksplisit merencanakan penolakan atau penghadangan terhadap individu "orang luar" yang dicurigai akan membawa kritik pedas. Ini adalah manifestasi ketakutan akut terhadap transparansi dan akuntabilitas! Mereka takut pada sinar matahari! Mereka yang dulu mengimpor orang luar untuk mengisi kekosongan kursi, kini mengekspor kembali orang luar yang membawa kebenaran! Bukankah ini sama saja dengan mengakui bahwa kursi kekuasaan mereka rapuh dan tidak tahan banting terhadap kritik dari luar?! Epilog : Propagasi Keangkuhan dan Perlawanan adalah Harga Mati! Bone Bolango, kamu sedang disandera oleh narasi palsu! Para pemegang kendali ini telah mengubah daerah menjadi sebuah benteng, di mana gerbangnya hanya terbuka untuk investasi politik dan ditutup rapat untuk investasi moral! Mereka nyaman dengan kebisuan yang dibeli, dan histeris ketika mendengar kritik yang tulus! Jika kita biarkan Blunder Bernarasi ini terus bergetar, maka Bone Bolango bukan hanya akan kehilangan kritik, tapi juga kehilangan harga dirinya! Perlawanan terhadap dualisme standar dan kemunafikan ini adalah harga mati! Mari kita cabut paksa Karpet Merah itu, dan robohkan Pagar Baja yang dibangun di atas dasar fitnah dan ketakutan! Guncang kekuasaan mereka sampai mereka sadar, bahwa jabatan adalah amanah, bukan lisensi untuk menjadi diktator!
Namun, di sisi lain, lihatlah cermin! Wakil Bupati yang duduk di tampuk kekuasaan saat ini adalah "orang luar" Bone Bolango!
Ini adalah hipokrisi monumental yang harus dimuntahkan kembali!
Tindakan ini adalah pelecehan terhadap prinsip kesetaraan. Ia menciptakan kasta: 'Orang Luar Bermanfaat' (untuk kekuasaan) dan 'Orang Luar Berbahaya' (untuk kritikan).
WhatsApp
facebook
POLITIK 09 Desember 2025
GoKLIK GORONTALO. Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, resmi membuka rangkaian pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD II Golkar Kabupaten Gorontalo, Selasa...
Selengkapnya...Copyright © GoKLIK.CO.ID
All Rights Reserved.
By 
Copyright © GoKLIK.CO.ID | All Rights Reserved.
By 