SISI LAIN, INSPIRASI

Di Bawah Cahaya Toko, Ada Mimpi Anak yang Tak Mau Padam

GoKLIK - Limboto.| Malam itu, saya dan istri hanya berniat membeli beberapa perlengkapan untuk kebutuhan pengajian anak kami. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang kami rencanakan. Namun terkadang, Tuhan mempertemukan kita dengan pelajaran hidup di tempat dan waktu yang tidak pernah diduga.

‎Di tengah era ketika pendidikan perlahan mulai kehilangan prioritas di mata sebagian anak-anak, ketika banyak waktu habis di depan layar gawai, tenggelam dalam permainan dan hiburan tanpa batas, saya justru dipertemukan dengan sosok kecil yang memberi makna besar tentang arti perjuangan.

‎Di pelataran sebuah toko perlengkapan dan peralatan, seorang anak perempuan berkerudung menghampiri kami dengan sopan. Usianya mungkin sekitar tiga belas tahun. Di tangannya ada beberapa roti kemasan yang dijual dengan harga sekitar tiga ribu rupiah per bungkus.
‎"Silakan, Om, rotinya," ucapnya pelan.
‎Kami tersenyum dan masuk ke dalam toko. Anak itu pun kembali ke tempatnya semula.



‎Saat saya dan istri memilih barang kebutuhan, pandangan saya sesekali mengarah ke luar melalui kaca toko. Hingga kemudian saya terdiam.
‎Ada pemandangan yang membuat hati saya bergetar.

‎Anak perempuan yang tadi menawarkan roti ternyata tidak hanya berjualan. Di sela-sela menunggu pembeli, ia membuka buku pelajaran dan mengerjakan tugas sekolahnya. Di bawah penerangan sederhana pelataran toko, ia membagi waktunya antara mencari tambahan penghasilan dan mengejar pendidikan.
‎Tangannya sesekali memegang buku tulis, lalu kembali merapikan dagangannya. Ketika tidak ada pembeli, matanya kembali fokus pada lembar tugas sekolah yang terbuka di hadapannya.
‎Saya terpaku.



‎Betapa kontrasnya pemandangan itu dengan kenyataan yang sering kita lihat hari ini. Banyak anak yang memiliki kesempatan belajar lebih baik justru enggan memanfaatkannya. Sementara di hadapan saya, ada seorang anak yang harus berjuang lebih keras dari usianya, tetapi tetap menjaga mimpinya agar tidak padam.

‎Hati saya dan istri tersentuh.
‎Saat itu juga muncul keinginan sederhana untuk membantunya. Sayangnya, uang yang kami bawa tidak banyak. Saya pun merogoh saku, mencoba mengingat apakah masih ada sisa uang yang sore tadi diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo kepada saya.

‎Alhamdulillah, masih tersisa beberapa lembar yang cukup untuk membeli beberapa kebutuhan sekolah sederhana: buku tulis, alat tulis, dan sebuah botol air minum.



‎Bukan sesuatu yang besar. Bahkan mungkin sangat kecil dibanding kebutuhan hidup yang harus ia jalani. Namun kami berharap setidaknya dapat menjadi penyemangat bahwa perjuangannya tidak luput dari perhatian.
‎Setelah membayar di kasir, kami keluar menghampirinya.

‎Istri saya menyerahkan bingkisan kecil itu sambil bertanya dengan ramah, "Sekarang sudah kelas berapa, Nak?"
‎Dengan wajah polos dan sopan, ia menjawab bahwa dirinya kini duduk di kelas 8 SMP, tidak jauh dari lokasi tempat ia berjualan.



‎Ketika mengetahui isi bingkisan yang kami berikan, wajahnya tampak berubah. Ada rasa haru yang sulit disembunyikan.
‎Istri saya lalu berkata, "Tetap semangat belajar ya, Nak. Semoga usaha dan kerja kerasmu hari ini menjadi jalan menuju kesuksesanmu di masa depan."
‎Anak itu mengangguk pelan.

‎Kami pun berpamitan dan melangkah pergi. Dari belakang, terdengar suara yang sedikit bergetar dan kaku menahan haru.

‎"Terima kasih, Om... Terima kasih, Tante..."



‎Suara itu sederhana.
‎Namun entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, suara itu terus terngiang di telinga saya.

‎Malam itu saya belajar bahwa tidak semua pahlawan mengenakan seragam. Ada yang mengenakan kerudung sederhana, menjual roti tiga ribuan di pelataran toko, lalu mengerjakan tugas sekolah di sela-sela perjuangan membantu keluarganya.

‎Dan saya semakin yakin, masa depan bangsa ini masih memiliki harapan. Selama masih ada anak-anak yang tetap memilih belajar di tengah keterbatasan, selama masih ada mimpi yang terus diperjuangkan meski keadaan tidak berpihak, maka cahaya harapan itu tidak akan pernah benar-benar padam.

‎Semoga kelak, ketika anak itu telah meraih cita-citanya, ia akan mengenang bahwa pernah ada malam sederhana di bawah cahaya sebuah toko, tempat perjuangan dan mimpinya berjalan berdampingan.


WhatsApp   
NNT
141

LAINNYA

View All
Ruang UMKM
SISI LAIN
View All
Ketika Kebaikan Menular : Malam di Mana Seorang Anak Dikelilingi Berkah yang Datang Bertubi-Tubi

INSPIRASI 31 Mei 2026

‎GoKLIK - Limboto.| Ada satu hal yang sering terlupakan di tengah hingar bingar ramainya hari kehidupan modern, kebaikan memiliki cara unik untuk menularkan efek dominonya. Ia bergerak dari...


Selengkapnya...
NNT
503
Advertisement
Mau berlangganan Iklan?
Advertisement
Mau berlangganan Iklan?
Follow Us
VIDEO
View All

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

VIDEO 19 November 2025
Advertisement
Mau berlangganan Iklan?

Copyright © GoKLIK.CO.ID
All Rights Reserved. By

Copyright © GoKLIK.CO.ID | All Rights Reserved. By