Oleh : Rinto Nurkamiden Napu, S. Pd, MH (Sekretari NU Kab. Gorontalo) Di setiap pelaksanaan Idul Adha menjadi penanda dua Kegiatan rutinan tahunan (annual Roetine) umat Islam yakni pertama ibadah Qurban dan yang kedua adalah ibadah haji. Hal tersebutlah yang membuat mengapa Idul Adha juga banyak dikenal dengan istilah lebaran haji karena memang dalam pelaksanaannya bertepatan dengan momen ibadah haji di tanah suci. Di Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban memerintahkan Berkurban sapi, kambing, merupakan bagian satu keharusan bagi setiap Muslim yang sudah matang dalam hal materi dan sanggup.. apabila itu semua terpenuhi, wajib dengan secara ikhlas berkurban dan merasa malu bila beralasan untuk tidak berkurban apabila Semua kebutuhan sudah terpenuhi. Perayaan Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban semata, melainkan mengandung makna yang jauh lebih dalam sebagai simbol pengorbanan dan kesediaan berbagi sebagian harta kepada sesama, terutama fakir miskin. Melalui ibadah kurban, umat Islam diajak untuk meneladani sikap Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan apa yang paling berharga demi ketaatan kepada Allah SWT. Penyembelihan hewan kurban dan pembagian dagingnya kepada mereka yang membutuhkan bukan hanya memperkuat rasa syukur atas nikmat Allah, tetapi juga menumbuhkan solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama umat Namu dalam Berqurban harus di barengi Keihklasan sebagai simbol penyerahan diri Sepenuhnya Kepada Sang Pencipta. Hikmah dalam berqurban apa yang kau berikan akan kembali apa yang kau tanam akan tumbuh dan apa yang kau korbankan akan mendapatkan Pahala, Bukan daging sapi dan kambing menjadi esensi dari Qurban tapi keikhlasan kita dalam Berqurban, sehingganya Mari Berqurban tapi jangan korban Perasaan. Bagaimana Korban Perasaan..? Dalam hal positif dimana sedih kita belum bisa berqurban di momen momen Hari Raya Qurban.Dimana perasaan yang sudah mampu berkorban tapi tidak mau berqorban, selanjutnya Dimana perasaan kita berlomba lomba mendapatkan Kupon daging dan tidak mendapatkan Kupon pembagian Daging. Sehingga nya Rasa kurban harus kita tumbuhkan pada diri kita masing-masing. Di tengah tantangan zaman modern yang semakin cenderung materialistis, Idul Adha hadir sebagai pengingat penting agar umat tidak terjebak dalam keserakahan dan egoisme yang dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual. Momen Ibadah Qurban jadikan setiap individu untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung, dan bagi umat yang layak mendapatkan pertolongan, sebagai bentuk perjalanan Ibadah ketaatan kepada Allah SWT. melalui tindakan nyata. Idul Adha bukan hanya sekadar momen ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk refleksi diri memeriksa sejauh mana seseorang telah berkorban, berbagi, tidak menzholimi dan berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Idul Adha menegaskan bahwa keberhasilan spiritual tidak hanya diukur dari ibadah , tetapi juga dari seberapa besar seseorang mampu mengalahkan nafsu duniawi, menebar kasih sayang, kebaikan dan mengamalkan nilai-nilai keikhlasan dan solidaritas kemanusiaan dalam masyarakat. Momen ini mengingatkan kita bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang penuh pengorbanan demi kebaikan bersama dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Ayolah sesama Umat berkurbanlah tanpa menimbang untung rugi, tanpa hitung-hitungan, dan jangan memakai perasaan atau nanti kita jadi korban perasaan. ( Oemar Bakrie) #Mariberqurban
Qurban bermula dari ujian keimanan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putra beliau, Nabi Ismail AS. Momen bersejarah ini diabadikan sebagai simbol ketaatan tertinggi kepada ALLAH SWT. Sehingga moment bersejarah ini adalah bentuk ketaatan, keikhlasan, dan wujud syukur umat Muslim kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan ternak.
Yang implementasi Syariat qurban dilaksanakan setiap tanggal 10 Zulhijah (Hari Raya Idul Adha) hingga hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah) bagi umat Muslim yang mampu.
Makna Qurban di Era Tantangan Zaman
lebih-lebih dalam era globalisasi kita semua dituntut untuk berkurban dalam rangka untuk mencari ridho Allah, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ulama kharismatik Buya Hamka punya pernyataan luar biasa soal berkurban. Menurut Buya Hamka, berkurban adalah sesuatu yang sangat berat. Hal itu bisa dilihat dari sejarah kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS, yang harus rela mengorbankan anaknya, Ismail AS, sesuai perintah Allah.
#Menabungsejakdiniberqurban
WhatsApp
facebook
POLITIK 09 Desember 2025
GoKLIK GORONTALO. Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, resmi membuka rangkaian pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD II Golkar Kabupaten Gorontalo, Selasa...
Selengkapnya...Copyright © GoKLIK.CO.ID
All Rights Reserved.
By 
Copyright © GoKLIK.CO.ID | All Rights Reserved.
By 